Suka Fiksi

Dari Pancasila Untuk Sebuah Rasa Bernama Jatuh Cinta

“Selamat sore dan selamat datang kepada seluruh penumpang kereta api Fajar Utama jurusan Jakarta – Yogyakarta. Perjalanan Anda telah tiba di pemberhentian terakhir Stasiun Yogyakarta. …”

Bersamaan dengan terdengarnya pengumuman penyambutan kereta tiba di stasiun pemberhentian terakhir, aku menarik nafas lebih pelan dan mendalam. “Jogja, Aku pulang”, aku berbisik pada diriku sendiri. Memang agak sedikit berlebihan bagi seseorang yang merantau hanya satu tahun sudah sok-sok-an menuliskan mengenai eratnya hubungan antara Jogja, rindu, dan tempat pulang. Tapi sungguh, setelah menempuh perjalanan puluhan jam dari Washington, D.C., aku sedang benar-benar setuju dengan potongan sajak Joko Pinurbo yang menyatakan bahwa Jogja terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Atas alasan itu pula, aku memilih kereta api rute Pasar Senen – Kota Jogja sebagai penutup perjalanan panjang, supaya begitu sampai Jogja, aku bisa segera makan di angkringan samping stasiun.

Sambil menunggu antrian meninggalkan kereta api, aku mengurusi dua kopor medium, satu kopor kabin, dan sebuah ransel berisi barang-barang pribadiku. Aku mengubah nafas menjadi pendek-pendek untuk menghindari sesak karena tumpuk-tumpukan antara rasa kangen, senang, bangga, dan tentu saja rasa haru. “Pak! Nyuwun tulung njih!”, aku memanggil seorang porter pria paruh baya dengan perawakan yang segar dan raut wajahnya begitu ramah. “Bapak bawa dua kopor besar ini, sekalian tolong carikan becak yang bisa temani saya di angkringan samping situ ya, Pak”, lanjutku.

Seselesainya desak-desakan di pintu keluar, aku berani putuskan kalau bapak porter itu kerjanya tidak asal kelar, aku dapat tukang becak yang tidak kalah ramah dengannya, bahkan mau menemaniku selama setengah jam untuk sama-sama menghabiskan kopi jos dan makan mendoan bakar.

“Saya gak berani ngimpi ke Amerika, Mbak”, kata Mas Tarjo si pemilik becak yang kini kami sedang berhadapan duduk lesehan di tikar angkringan.

“Kenapa?”, balasku singkat karena masih ada sisa mendoan di mulut.

“Enak jadi orang kampung, atau paling gak ya di kota kecil aja.”

“Di sana juga enak kok, Mas”, sebenarnya aku berani bilang begini karena kontrakku untuk meninggalkan kampung sudah selesai.

“Wah ya kalau Kula enak itu definisinya saat bisa kumpul-kumpul di pelataran rumah, atau saat bebarengan reresik kampung, sama pas jaga ronda sambil nyeruput kopi, ahh.” Aku tertawa geli melihat Mas Tarjo mempraktikan nyeruput kopinya itu. Ia lalu melanjutkan, “Lagian to Mbak, Kula juga gak isa mbayangne nik tetangga lagi punya hajatan tapi gak ikut bantu-bantu, apalagi kalau sedang berduka, ya gak bakal tega aku gak ikut stand by di rumah duka. Kan di kota-kota metropolitan itu semuanya cuma datang buat seperlunya aja. Buat jaga eksistensi aja. Ya to, Mbak?”

“Mas Tarjo, Jenengan tolong bungkuskan nasi kucing, mendoan, sate usus, telor gemak, ati bacem, sama kepala bacem buat isteri sama anak Jenengan. Jangan lupa susu jahe juga.”

“Nah iki, Mbak. Ini yang mungkin gak bisa aku temui saat tinggal di kota besar”, Mas Tarjo terkekeh sambil menuruti permintaanku. Ia juga yang mengantarku sampai ke rumah dengan perjalanan sejauh tiga puluh kilo meter dari pusat kota. Ia benar-benar menolak saat beberapa kali aku minta turun dari becak motornya dan berganti dengan taksi online, ia bilang rute jalannya searah pulang. Padahal ia tinggal di dekat Kali Progo, sedangkan aku di Parangtritis. Sepanjang perjalanan pulang aku menerka-nerka kalau sosok Mas Tarjo juga merupakan perwujudan makna dari Jogja, sikap dan sudut pandangnya yang sederhana juga lekat dengan pesan Pancasila dan bentuk saling menjaga ala Indonesia.

***

Lanjutkan membaca “Dari Pancasila Untuk Sebuah Rasa Bernama Jatuh Cinta”

Suka Curhat

Selamat Ulang Tahun, Aku!

Agustus 2020 dan tiga tahun kedepan adalah hal yang sudah aku nanti-nantikan sejak duduk di bangku SMK. Selepas berhasil menyelesaikan drama beasiswa tahun 2007, di dalam diriku seperti ada sesuatu yang membara. Mudah terbakar. Berani punya mimpi besar. Di usia yang belum tepat pada angka 17 aku sudah berani mengklaim diri sendiri kalo suatu waktu akan jadi orang besar.

Suka Fiksi

Tayuh

Mendadak pundakku seperti membawa beban yang berat. Berkali lipat lebih berat daripada biasanya. Aku sedang berada di pos pertama dalam sebuah pendakian ke tiga belas. Tergabung dalam tim manusia minimalis seperti mendapat bonus karena kami terbiasa hidup dengan sedikit barang. Termasuk bekal peralatan saat perjalanan pendakian. Punggung kami menjadi lebih terbiasa dengan bawaan yang ringan-ringan saja. Tapi malam itu, nampak berbeda. Aneh.

Lebih aneh lagi ketika aku perlahan-lahan menyadari kalo bebannya tidak seimbang. Bahu kananku terasa lebih berat, seperti ditekan oleh sebuah rangkulan. Dan benar. Disana mendarat lengan berselimut jaket yang sangat aku kenali. Kami belum terlalu lama mengakhiri hubungan. Seharusnya dia paham sopan santun untuk tidak sebercanda ini dalam mengekspresikan pertemuan. Nafasku mendadak berat. Jelas aku kesal. Lanjutkan membaca “Tayuh”

Suka Curhat

Semestinya Kita Sama-Sama Jaga Lautan Kita

IMG_20200614_170011

Halaman ini akan dimulai dengan sendu oleh potongan puisi karya Eyang Sapardi Djoko Damono, Hujan Bulan Juni.

Tak ada yang lebih tabah,
Dari hujan bulan Juni,
Dirahasiakannya rintik rindunya,
Kepada pohon yang berbunga itu.

 

Puisi yang ditulis pada tahun 1994 itu konsisten menyimpan kesenduan hingga kini. Semula rasa sendu yang dihadirkan Hujan Bulan Juni murni mencerminkan upaya ketabahan dari ketidakmungkinan turun hujan saat musim kemarau. Kini, saat usianya baru 26 tahun, Hujan Bulan Juni menyajikan kesenduan pada sebuah kenyataan bahwa alam mampu menyajikan hujan di bulan Juni. Rasanya hampir gak percaya ketika menghitung jangka waktu antara tahun ditulisnya puisi Hujan Bulan Juni dan beberapa tahun terakhir yang bisa-bisanya hujan benar-benar turun menerjang jatah musim kemarau. Sangat pendek. Hanya butuh sekitar 20 tahun, alam mengeluarkan tanda-tanda adanya perubahan iklim.

Lanjutkan membaca “Semestinya Kita Sama-Sama Jaga Lautan Kita”

Suka Curhat

#MelawanCorona : Kemenangan Kebaikan Di Bulan Ramadhan

This is the price of war
And we’ve paid with time
We’ll fight fight till there’s nothing left to say
Whatever it takes
We’ll fight fight till your fears, they go away
The light is gone and we know once more
We’ll fight fight till we see another day
– Fight The Night, One Ok Rock.

IMG_20180325_181147

Pada awal tahun 2020 kupikir pekan terakhir di bulan Mei akan menyelesaikan salah satu wishlist nonton konser band rock dari luar negeri, One Ok Rock. Mei akan jadi bulan yang cukup sempurna dengan surat pernyataan lolos development program yang artinya ada kenaikan gaji, menerima THR, memfasilitasi buka puasa pertama dengan adik-adik asuh di beberapa komunitas, lebaran pertama dengan berbagi bingkisan untuk para lansia, sampai pengalaman pertama menyaksikan secara langsung penampilan Mas Taka, Mas Toru, Mas Ryoto, dan Tomoya di Jakarta. Sayangnya, Alam Semesta menjadi gak selaras semenjak Virus Corona menyerang Indonesia. Memasuki awal Mei pikiranku berubah, Mei gak akan mampu menuju sempurna, Mei akan menjadi cerita perjuangan, cerita menemukan kemenangan. Lanjutkan membaca “#MelawanCorona : Kemenangan Kebaikan Di Bulan Ramadhan”

Suka Curhat

Ora Srawung Rabimu Suwung

IMG_20200412_173351

Selama hidup di Bumi, kupikir manusia memang bergantung dengan keberadaan sesamanya. Saling berbagi satu sama lain. Baik dalam hal waktu, tenaga, pikiran, tindakan, materi, energi, atau apapun nanti. Seharusnya manusia hidup dengan saling bahu-membahu. Bukan memberi dengan mengharap akan gantian menjadi yang diberi.

Lelucon ora srawung rabimu suwung semakin marak seiring dengan meningkatnya minat nikah muda. Kalimat yang versi bahasanya kira-kira punya arti tidak bersosialisasi nikahanmu akan sepi itu menjadi mantra andalan untuk saling menyudutkan. Alih-alih mempererat persaudaraan, menurutku kalimat itu bisa menjadi sebuah bumerang. Lanjutkan membaca “Ora Srawung Rabimu Suwung”

Suka Curhat

Sampah Menanti PerHATIan Pemerintah

blog 1

Sepotong pertanyaan “Nikmat Tuhan mana yang Kau dustakan?” begitu akrab dengan suatu keindahan yang gak ada celanya. Memang gak ada nikmat dari Sang Pencipta yang bisa didustakan, tapi tetap ada manusia yang tanpa sadar mendustakan kenikmatan itu. Sebut saja kenikmatan yang berbentuk udara. Zat yang gak tampak mata, gak berbau, dan gak ada rasanya ini diciptakan Tuhan dengan kandungan oksigen sebanyak 20,95 persen. Namun, banyak orang mendustakan maha karya -yang sebenernya menjadi kebutuhan hidupnya- itu dengan tindakan pencemaran lingkungan. Sebut saja kegemaran mengatasi sampah dengan cara pembakaran.

Sejak awal, membakar sampah memang sudah jadi salah satu cara favorit untuk melenyapkan sampah dari muka bumi ini. Perbedaan generasi eyang buyut kita dan saat ini dalam kebiasaan membakar sampah bisa dibilang hanyalah perkara jenis sampah yang dibakar. Simbah membungkus bawang dan cabai masih pake daun pisang, kemasan nasi punjungan pake anyaman bambu dan daun jati, pergi ke pasar selalu bawa tenggok, dan dari hal-hal itu aktifitas keseharian mereka menghasilkan sampah organik, atau dengan kata lain gak ada plastik. Bukan kok sah-sah saja untuk dibakar, tapi setidaknya yang mereka bakar gak mengandung zat kimia. Lanjutkan membaca “Sampah Menanti PerHATIan Pemerintah”

Suka Curhat

Aku dan Kamu adalah Generasi Demokrasi, Harapan Bagi Negeri Pertiwi

Ilustrasi-Hari-Pahlawan

Hidup tiada mungkin tanpa perjuangan,

Tanpa pengorbanan.

Mulia adanya.

Potongan lirik lagu Indonesia Jaya bisa saja dimaksudkan sebagai sentilan bagi setiap generasi yang hidup pada eranya masing-masing. Chakem M. mungkin mewakili Tanah Air ini untuk mengatakan pada anak-anak muda bahwasanya memang akan selalu ada hal-hal yang perlu diperjuangkan.

Lantas hal-hal seperti apa yang masih membutuhkan sebuah perjuangan? Banyak, dan kompleks, tentu saja. Sebab setiap detail kecil yang bergerak di Bumi Pertiwi ini saling berkesinambungan. Sebut saja makanan yang ada di piring kita. Nasi berawal dari beras yang memulai perjalanan dengan perdebatan antara import atau swasembada. Sayur-mayur yang jadi saksi keringat para petani tertipu oleh timbangan pengepul. Kaldu dan irisan daging yang berasal dari lahan-lahan peternakan ilegal. Bumbu-bumbu yang harus datang dari luar negeri, karena gak mau tumbuh pada tanah milik bangsa sendiri. Atau setetes minyak sawit yang ternyata membuat saudara setanah air ini terkepung asap kebakaran lahan dan hutan. Lanjutkan membaca “Aku dan Kamu adalah Generasi Demokrasi, Harapan Bagi Negeri Pertiwi”

Suka Curhat

Bumi, Januari 2092

IMG_20200222_153611

Dari : Cicit yang sedang berulang tahun ke-17 tahun

Untuk : Eyang Buyut

Hai Eyang Buyut,

Terima kasih atas kesempatan untuk menyapamu di tahun 2020, tepatnya 72 tahun sebelum tiba pada kehidupanku.

Eyang Buyut tentu sudah bisa memperkirakan bagaimana tanah tempat tinggalku. Cucu-cicitmu dan milyaran manusia seakan tertimpa kesialan harus hidup di Bumi dengan sisa-sisa pencemaran yang Eyang Buyut tinggalkan.

Udara yang kami hirup bukan udara segar.

Air yang kami minum bukan air jernih.

Ikan yang kami makan bukan ikan bernutrisi.

Tanah yang kami injak bukan tanah subur.

Lanjutkan membaca “Bumi, Januari 2092”

Suka Fiksi

Resensi Buku: Dunia Anna, Sebuah Novel Filsafat Semesta

dunia anna
Sumber gambar: dokumen milik Shofian.

Semesta menangih pertanggungjawaban atas ulah manusia. Kira-kira seperti itulah salah satu pesan yang ingin disampaikan oleh Jostein Gaarder melalui novel berjudul Dunia Anna. Sekalipun dikemas dalam cerita fiksi, buku setebal 244 halaman ini menyajikan pandangan nyata seputar pentingnya menjaga bumi. Melalui imajinasi sosok Anna sebagai tokoh utama, pembaca dibawa pada sebuah kekhawatiran kelak anak-cucunya akan meminta kembali alam yang layak untuk keberlangsungan kehidupan.

Sepanjang perjalanan cerita, Anna yang sedang menyambut usia 16 tahun dibuat gelisah oleh mimpinya sendiri. Dalam tidurnya, Anna kerap kali berubah menjadi sosok Nova yang masih meninggali ruangan milik Anna. Hanya saja, dalam dunia Nova, ruangan itu sudah dilengkapi dengan peralatan canggih, seperti layar-layar yang tersambung dengan kamera pengintai ke berbagai penjuru dunia. Bahkan layar di kamar Nova itu bisa menampilkan keadaan flora-fauna di berbagai hutan yang tersebar di dunia. Melalui layar-layar yang ada di setiap sisi ruang kamarnya itu Nova bisa mengetahui keadaan terbaru seputar Bumi. Gak jarang Nova mendapat kabar matinya hewan-hewan langka, es di kutub yang terus meleleh, dan kasus kerusakan lingkungan lainnya. Hal itulah yang membuat Nova sering kali memberontak dan menuntut neneknya untuk mengembalikan flora-fauna seperti sedia kala. Nova merasa dirinya mewakili umat manusia pada tahun 2082 menuntut manusia yang sudah memulai kehidupan pada 70 tahun sebelumnya untuk bertanggung jawab atas kelakuan mereka. Lanjutkan membaca “Resensi Buku: Dunia Anna, Sebuah Novel Filsafat Semesta”