Suka Curhat

Terimakasih, Dilan!

WP
Kayaknya banyak banget deh yang termakan omongan dewe “Nggak bakalan tertarik, apalagi sampe nonton film Dilan 1990”. Salah satu diantaranya adalah aku. Duh kena karma nih.

Cerita berjudul Dilan emang udah nggak asing lagi buatku. Bukunya dari pertama kali dirilis sampe sekarang ini masih betah nongkrong di rak rekomendasi toko buku. Dulu menjadi salah satu novel andalan pendongkrak omset departemen fiksi di toko buku tempatku kerja. Aku yakin sekarang ini novel Dilan pasti jadi garapan serius para pramuniaga toko buku. Ahahaha.

Aku tertarik buat baca? hmm waktu itu sama sekali tidak. Aku dan teman-teman pramuniaga pun sepakat kalau novel Dilan letak rak regulernya masuk kategori bacaan remaja seperti teenlit dan metropop. Orang-orang pembaca novel berat -yang pake mikir- pasti nggak tertarik sama novel Dilan. Hampir benar sih, pembeli novel Dilan cenderung usia remaja di masa-masa anak baru gede. Mengamati pasarannya, aku semakin kurang tertarik pada karya mas Pidi Baiq itu.

Nah! Sejak Rabu, 7 Februari 2018 aku seperti merasa bersalah karena pernah memandang sebelah mata pada cerita Dilan. Keluar dari bioskop, aku masih senyum-senyum sendiri karena cerita yang ada di film Dilan 1990 sangat jauh dari tuduhan. Aku ramalkan Dilan 1990 akan menjadi fenomenal seperti AADC.

Pada minggu kedua pemutaran film Dilan 1990, aku dipertemukan artikel ini yang akhirnya meluluh lantahkan benteng pertahanan, bahkan pengen buru-buru nonton. Alhamdulillah banget ketemu ulasan semacam itu yang menjadikan aku tidak ketinggalan untuk melihat kerennya film Dilan 1990.

Cerita di film Dilan 1990 sangat sederhana. Alurnya mengalir begitu saja, nggak ada klimaks yang menegangkan. Aku juga nggak menyangka kalau nonton Dilan 1990 ini bakalan ngakak banget. Selain cerita drama anak remaja, bisa dibilang sisi komedinya terasa banget. Misalnya saat Dilan mengirimkan surat untuk Milea, Dilan memakai kata Iqra’ yang maksudnya adalah bacalah. Belum lagi celetupan konyolnya yang sering bikin Milea (dan penonton) melongo berujung tertawa.

Tingkah-tingkah konyol tapi masuk akal dari sosok Dilan dan polosnya Milea berhasil membalikkan ingatan pada masa-masa jaman sekolah dulu. Memang tidak sepenuhnya sama sih, ada beberapa hal yang aku tidak mengalami tapi teman-temanku mengalaminya. Generasi 90-an nih beneran diajak bernostalgi(L)a.

Mengingatkan kembali pada era alat komunikasi belum secanggih sekarang ini. Jatuh cinta sama teman sekolah dengan nggak neko-neko. Teleponan cuman pakai telepon rumah, jalan-jalan juga cuma muter-muter nggak jelas, main ke rumah pun ada anggota keluarga yang lain. Mau ketemuan susah banget karena nggak ada handphone buat janjian. Beda sama sekarang yang dikit-dikit bilang kangen via chat. Kalau nggak direspon ketik P <enter> P <enter> P <enter> sampe jebol. Hahaha.

Kesederhanaan kisah cinta Dilan dan Milea ini menurutku perlu ditonton generasi Z yang hidupnya sudah difasilitasi kecanggihan teknologi. Supaya anak-anak jaman now bisa lebih santai dan tidak ribet kalau lagi jatuh cinta dan pacar-pacaran. Masih banyak lagi sih nilai-nilai kesederhanaan yang bisa diambil dari film Dilan 1990.

Aku sih merasa puas banget nonton film ini. Segera deh baca bukunya. 🙂

Iklan

2 tanggapan untuk “Terimakasih, Dilan!”

    1. Bener Els. Beruntung banget masih ada film kayak Dilan ini. Jatuh cinta ala anak sekolahan jaman dulu emang sederhana tapi ngena banget yak. Hahahaa.. Aku setuju sama kamu, Dilan-Milea akan jadi the next Rangga-Cinta atau Galih-Ratna.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s